Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Gelar RAT 2023โ€“2024: Evaluasi Kinerja dan Pemantapan Program Kerja 2025

Admin Alko | 18/04/2025


Kerinci, 17 April 2025 โ€“ Dalam semangat memperkuat sinergi petani kopi dan mendorong tata kelola koperasi yang transparan, Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Int (Perkumpulan Petani Kopi Alam Korintji) menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) untuk periode 2023โ€“2024. Acara ini berlangsung pada Rabu, 17 April 2025, di Kerinci, dan menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kinerja satu tahun terakhir sekaligus merancang program strategis menghadapi tahun 2025.

RAT ini merupakan bagian dari agenda tahunan koperasi yang bertujuan memastikan akuntabilitas dan keterlibatan aktif anggota dalam proses pengambilan keputusan. Dengan tema besar โ€œMemantapkan Peran Koperasi dalam Meningkatkan Daya Saing dan Kesejahteraan Petani Kopi,โ€ RAT tahun ini mengangkat dua agenda utama: Pelaporan Tahun 2024 dan Perencanaan Program Kerja 2025.

Evaluasi Kinerja Tahun 2024

RAT diawali dengan pemaparan laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas koperasi yang disampaikan oleh PJ Ketua Koperasi Puputsari Puspita, SH atas pelaksanaan program kerja, keuangan, dan kegiatan kemitraan selama tahun 2024. Ketua Koperasi, dalam sambutannya, menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan koperasi mempertahankan stabilitas produksi dan penjualan meskipun menghadapi tantangan global seperti fluktuasi harga kopi dunia, perubahan iklim, dan regulasi ekspor yang semakin ketat, termasuk adaptasi terhadap European Union Deforestation Regulation (EUDR).

โ€œAlhamdulillah, berkat kerja keras para anggota, pengurus, dan dukungan mitra, koperasi kita masih mampu menjaga kualitas produksi dan memperluas pasar ekspor, khususnya ke Eropa, Jepang, dan Maroko. Tahun ini, kita berhasil mengekspor lebih dari 60% kopi specialty dan mempertahankan relasi dagang dengan buyer utama dari Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, Dubai, dan Maroko,โ€ ujar Ketua Koperasi dalam laporannya.

Selain aspek penjualan, laporan juga menyoroti peningkatan partisipasi anggota saat ini mencapai 9.181 petani kopi baik arabika maupun robusta dan 3.250 petani non-kopi yang tersebar di beberapa provinsi produksi kopi di Indonesia. Dijelaskan juga bahwa titik penting keberlanjutan adalah adanya peningkatan penanaman atau perluasan lahan tanam, adanya peningkatan peserta kegiatan program pelatihan budidaya berkelanjutan, perencanaan sertifikasi organik, dan pelaksanaan traceability berbasis digital yang menjadi syarat ekspor kopi berkelanjutan serta pembuatan rekening khusus untuk seluruh anggota koperasi dalam satu bank nasional yang sedang berjalan. Disampaikan juga bahwa tingkat penggunaan aktif di aplikasi traceability blockchain kopi ALKO juga meningkat 45% menjadi 2.750 petani kopi aktif pengguna. Target di 2025, koperasi akan terus mengembangkan cabang produksi di beberapa daerah lainnya di Indonesia dan juga akan memulai mengembangkan sektor hilir dengan membuka beberapa storage produk kopi di pusat-pusat kota besar di Indonesia dan global. Dalam waktu dekat akan membuka di Jakarta berupa ALKO Sentral Storage, untuk pasar luar negeri setelah memiliki representatif storage di Osaka, London, dan Norwegia, selanjutnya akan membuka storage afiliasi di Dubai untuk intervensi pasar Timur Tengah. Pengembangan di sektor hilir dan menjadikan ALKO sebagai perusahaan menuju go publik juga akan dimulai tahun 2025.

Tim pengawas dan pembina koperasi, Bapak Suryono, juga menyampaikan hasil audit internal yang menunjukkan pengelolaan keuangan koperasi dilakukan secara tertib, transparan, dan akuntabel. Pemanfaatan hasil usaha tahun 2025 harus bisa dioptimalkan untuk segera mempercepat pembuatan rekening seluruh anggota aktif koperasi agar penyaluran SHU selanjutnya bisa diberikan langsung kepada petani secara payroll.

Penyampaian tanggapan Pembina Koperasi ALKO, Buk Risa Bhinekawati, SE, MBA, Ph.D, yang datang menghadiri RAT mengatakan program pengembangan usaha juga menunjukkan progres yang terus tumbuh dan dikenal secara global sebagai satu gerakan bisnis sosial yang keterlibatan petani cukup besar dan melakukan pemberdayaan tingkat petani serta konsisten melakukan kegiatan peduli lingkungan, penanaman pohon, pemberian beasiswa, dan pemberian asuransi kesehatan kepada petani. Pengembangan promosi Koperasi ALKO sudah tembus pasar global dan tetap memperhatikan pola ekonomi yang berbasis syariah dan berkeadilan.

Laporan tersebut diapresiasi oleh para anggota dan dinyatakan diterima secara musyawarah mufakat. Beberapa perwakilan komunitas yang ikut dalam RAT juga memberikan pandangan yang positif.

Tantangan dan Inovasi

Dalam sesi diskusi terbuka, para anggota koperasi menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan, mulai dari akses pupuk dan bibit unggul, penurunan produktivitas lahan tua, hingga kebutuhan penguatan kelembagaan kelompok tani dan permodalan. Salah satu petani senior dari Kayu Aro mengusulkan agar koperasi fokus pada program regenerasi kebun, pembuatan pembibitan dan peremajaan tanaman kopi dengan melibatkan anak-anak muda petani.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Koperasi menjelaskan bahwa tahun 2025 koperasi akan fokus pada tiga pilar strategis: Regenerasi Petani, Digitalisasi Rantai Pasok, dan Penguatan Rantai Nilai Lokal. โ€œKita ingin menjadikan koperasi sebagai rumah besar inovasi petani. Program-program seperti pembibitan kopi unggul, pelatihan agronomi, hingga pelibatan generasi muda akan menjadi prioritas. Kita juga sedang menjajaki kerja sama dengan platform Qhiting Blockchain untuk pengembangan sistem traceability dan pemenuhan syarat EUDR,โ€ jelasnya.

Selain itu, dibahas pula pentingnya koperasi memiliki cadangan modal yang memadai untuk membeli hasil panen petani dengan harga stabil, terutama saat musim panen raya. Usulan pembentukan Dana Cadangan Koperasi dan penguatan unit usaha simpan pinjam turut mendapat sorotan dalam diskusi tersebut.

Perencanaan Program Kerja 2025

Sesi kedua RAT membahas rancangan program kerja tahun 2025. Beberapa program prioritas yang disepakati antara lain:

  1. Penguatan Kelembagaan dan Tata Kelola

    • Pelatihan manajemen koperasi untuk pengurus dan staf lapangan.

    • Revisi AD/ART agar sesuai dengan perkembangan regulasi dan kebutuhan anggota.

    • Peningkatan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan dan monitoring program.

  2. Pengembangan Produk dan Diversifikasi Pasar

    • Penambahan varian produk kopi kemasan premium.

    • Penetrasi pasar lokal dan nasional melalui kolaborasi dengan UMKM dan marketplace.

    • Eksplorasi pasar baru di wilayah Skandinavia dan Korea Selatan.

  3. Sertifikasi dan Sistem Ketelusuran

    • Peningkatan cakupan lahan bersertifikat organik.

    • Pelatihan budidaya dan traceability untuk seluruh anggota.

    • Implementasi sistem traceability berbasis Qhiting Blockchain.

    • Pelatihan audit internal dan pencatatan digital bagi petani.

  4. Peremajaan Kebun dan Adaptasi Iklim

    • Pembagian bibit kopi unggul dan tanaman peneduh.

    • Pelatihan teknik budidaya adaptif terhadap perubahan iklim.

    • Pembangunan sistem irigasi sederhana dan pemanfaatan pupuk organik lokal.

  5. Program Petani Muda dan Inklusi Gender

    • Pendirian Sekolah Lapang Petani Muda berbasis keterampilan digital.

    • Pelibatan kelompok perempuan dalam pengolahan pasca panen dan pemasaran.

    • Penyediaan akses pembiayaan mikro berbasis koperasi.

  6. Penambahan Anggota Koperasi

    • Penambahan anggota aktif di provinsi produksi kopi di Indonesia dengan tetap menekankan prinsip ekosistem.

Program-program ini disusun dengan mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan, sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi standar baru dalam perdagangan kopi global.

Penutup: Koperasi sebagai Pilar Kedaulatan Petani

RAT Koperasi Produsen Petani Alam Korintji Int ini ditutup dengan penandatanganan kesepakatan program kerja 2025 serta penyerahan simbolis dokumen laporan tahunan kepada seluruh anggota. Para peserta RAT juga mengadakan sesi foto bersama dan menikmati sajian kopi hasil produksi koperasi.

Melalui kegiatan ini, koperasi menegaskan kembali perannya sebagai pilar kedaulatan ekonomi petani, pusat inovasi lokal, dan aktor penting dalam mewujudkan keadilan dalam rantai nilai kopi.

Dengan semangat gotong royong dan visi jangka panjang, Koperasi Produsen Petani Alam Korintji INT (ALKO) bertekad menjadikan tahun 2025 sebagai tahun akselerasi kualitas, digitalisasi sistem, dan peningkatan kesejahteraan petani kopi di Kerinci 

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

KERINCI โ€” ALKO Academy kembali menjadi pusat perhatian mitra internasional. Pada awal Juni 2026, delegasi dari Jepang yang terdiri dari perwakilan Resona Bank Tokyo dan Saka No Tochu tiba di Kerinci untuk melakukan kunjungan lapangan sekaligus evaluasi program kerja sama yang telah berjalan selama tiga tahun bersama Koperasi ALKO.Menariknya, kunjungan kali ini juga bertepatan dengan kedatangan seorang mahasiswa magang asal Paris, Prancis, yang akan mempelajari model pengembangan ekonomi berbasis kopi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan ALKO di Kabupaten Kerinci.Kehadiran tamu dari dua benua tersebut memperlihatkan bahwa praktik yang dibangun dari kawasan kaki Gunung Kerinci mulai menarik perhatian dunia sebagai contoh pengembangan komunitas berbasis pertanian berkelanjutan.Rombongan disambut di ALKO Academy, pusat pembelajaran yang selama ini menjadi ruang kolaborasi bagi petani, mahasiswa, peneliti, pelaku usaha, hingga mitra internasional yang ingin memahami ekosistem kopi Indonesia secara lebih mendalam.Menurut pihak ALKO, kunjungan tahun ini memiliki fokus yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain meninjau perkembangan program Carbon DNA dan pertanian berkelanjutan, delegasi juga akan mempelajari bagaimana koperasi mampu mengintegrasikan berbagai sektor, mulai dari produksi kopi, pendidikan petani, pengelolaan sampah, pemberdayaan perempuan, pengembangan anak muda, hingga transformasi digital berbasis blockchain.โ€œKerinci bukan hanya tentang kopi. Yang ingin kami tunjukkan adalah bagaimana sebuah komunitas desa dapat membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan petani, sekolah, perempuan, generasi muda, dan lingkungan dalam satu sistem yang saling terhubung,โ€ ujar perwakilan ALKO.Selama berada di Kerinci, delegasi Jepang dijadwalkan mengunjungi kebun kopi anggota koperasi, fasilitas pengolahan pascapanen, pusat pengelolaan sampah, serta berbagai unit usaha yang berada dalam ekosistem ALKO.Mereka juga akan berdialog langsung dengan petani untuk melihat dampak penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.Sementara itu, mahasiswa magang dari Paris akan menjalani program pembelajaran lapangan yang berfokus pada model koperasi modern, pengembangan rantai pasok kopi, serta penerapan teknologi dalam pengelolaan usaha masyarakat.Program magang tersebut menjadi bagian dari semakin meningkatnya minat akademisi internasional terhadap praktik pembangunan desa yang menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang.Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO Academy memang berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang menerima berbagai kunjungan dari universitas, lembaga riset, perusahaan, hingga organisasi internasional.Banyak pihak tertarik melihat bagaimana koperasi dapat bertransformasi dari sekadar lembaga ekonomi menjadi pusat inovasi yang mampu menciptakan berbagai program berbasis kebutuhan masyarakat.Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, salah satu aspek yang paling menarik adalah kemampuan ALKO menghubungkan isu lingkungan dengan aktivitas ekonomi petani.Program Carbon DNA yang dikembangkan bersama menjadi contoh bagaimana praktik budidaya kopi dapat didokumentasikan, diukur, dan dikaitkan dengan manfaat ekonomi yang lebih luas.Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan arah pembangunan global yang kini semakin menekankan pentingnya transparansi, keberlanjutan, dan pengurangan emisi karbon.Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa magang dari Prancis menunjukkan bahwa isu keberlanjutan telah menjadi perhatian lintas negara dan lintas generasi.Banyak generasi muda di berbagai belahan dunia mulai mencari contoh nyata mengenai bagaimana komunitas lokal dapat menghadapi tantangan perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan transformasi pasar global.Kerinci, yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kopi arabika berkualitas, kini mulai dikenal sebagai laboratorium sosial untuk berbagai praktik pembangunan berkelanjutan.Keberadaan ALKO Academy menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman lokal dengan kebutuhan pembelajaran global.Melalui kunjungan ini, para tamu tidak hanya belajar mengenai kopi, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat desa membangun masa depan melalui kolaborasi, inovasi, dan semangat gotong royong.Bagi ALKO, kedatangan mitra Jepang dan mahasiswa dari Prancis menjadi bukti bahwa praktik baik yang lahir dari desa memiliki nilai yang dapat dipelajari dunia.Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga ketahanan pangan, pengalaman petani Kerinci menunjukkan bahwa solusi tidak selalu lahir dari kota-kota besar atau pusat industri, melainkan dapat tumbuh dari kebun-kebun kopi yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.Kunjungan ini sekaligus mempertegas posisi ALKO Academy sebagai ruang pembelajaran internasional yang mempertemukan petani, akademisi, pelaku bisnis, dan generasi muda dalam membangun masa depan pertanian yang lebih inklusif, hijau, dan berdaya saing global.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Kerinci, Jambi โ€” Isu perubahan iklim yang selama ini banyak dibahas dalam forum internasional kini mulai diperkenalkan secara langsung kepada generasi muda di daerah sentra kopi Indonesia. Melalui kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank Jepang, dan Saka No Tochu, sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kabupaten Kerinci akan mengikuti program edukasi mengenai karbon, lingkungan, dan keberlanjutan sebagai bagian dari kunjungan kerja delegasi Jepang ke Indonesia.Program ini menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungan tahunan delegasi Jepang yang terdiri dari Mr. Ryota Tasai dan Ms. Mizuho Shigemura dari Saka No Tochu, serta Ms. Mai Satouchi dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo.Kegiatan tersebut menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pembangunan ekonomi pedesaan berbasis keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan petani kopi.Menurut Project Manager Saka No Tochu, Ryota Tasai, edukasi generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya membangun kesadaran lingkungan jangka panjang."Kegiatan kali ini tidak hanya fokus kepada petani, tetapi juga kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci. Kami ingin memperkenalkan pentingnya karbon, perubahan iklim, dan bagaimana generasi muda dapat berperan dalam menjaga lingkungan sejak dini," ujarnya.Dari Kebun Kopi ke Ruang KelasSelama ini kerja sama ALKO dan mitra Jepang lebih banyak dikenal melalui pengembangan sistem pertanian berkelanjutan di tingkat petani. Namun dalam perkembangannya, para pihak melihat bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat berhenti pada sektor produksi semata.Kesadaran lingkungan harus dibangun sejak usia sekolah.Kerinci dipilih sebagai lokasi program karena wilayah ini memiliki posisi strategis sebagai kawasan penyangga ekosistem Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus daerah penghasil kopi arabika berkualitas dunia.Di kawasan ini, hubungan antara masyarakat dan lingkungan berlangsung sangat erat. Sebagian besar kehidupan ekonomi masyarakat bergantung pada sektor pertanian yang sangat dipengaruhi kondisi alam.Karena itu, pemahaman mengenai karbon dan perubahan iklim dinilai penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda yang kelak akan menjadi pengelola sumber daya alam di daerah tersebut.Dalam kegiatan tersebut para siswa akan mendapatkan pemahaman mengenai siklus karbon, fungsi pohon dalam menyerap emisi, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, serta hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim global.Materi akan disampaikan secara interaktif dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh pelajar.Melihat Perkembangan Carbon DNASelain kegiatan edukasi sekolah, kunjungan delegasi Jepang juga bertujuan mengevaluasi perkembangan program Carbon DNA yang selama tiga tahun terakhir dikembangkan bersama Koperasi ALKO.Carbon DNA merupakan pendekatan yang mengintegrasikan praktik pertanian kopi berkelanjutan dengan pengukuran dan dokumentasi dampak lingkungan di tingkat petani.Melalui sistem tersebut, aktivitas petani tidak hanya dinilai berdasarkan volume produksi, tetapi juga berdasarkan kontribusinya dalam menjaga ekosistem.Perwakilan Resona Bank Tokyo, Mai Satouchi, menjelaskan bahwa kunjungan tahun ini difokuskan untuk melihat perkembangan implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan yang telah diterapkan oleh anggota koperasi."Ini adalah tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank. Salah satu tujuan kunjungan kami adalah melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA serta manfaat yang dirasakan petani dari program tersebut," kata Mai Satouchi.Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari aspek lingkungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.Model Pemberdayaan yang Menarik Perhatian JepangBagi mitra Jepang, ALKO dinilai berhasil membangun pendekatan yang unik dalam menggabungkan bisnis kopi, koperasi, edukasi, pengelolaan sampah, hingga pengembangan teknologi digital dalam satu ekosistem.Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO tidak hanya aktif melakukan ekspor kopi ke berbagai negara, tetapi juga mengembangkan program lingkungan yang melibatkan petani, perempuan, anak muda, dan sekolah-sekolah.Model tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Resona Bank dan Saka No Tochu terus memperpanjang kolaborasi mereka di Kerinci.Melalui kunjungan lapangan, para delegasi akan melihat secara langsung aktivitas petani anggota koperasi, fasilitas pengolahan kopi, pengelolaan sampah, program edukasi lingkungan, hingga pengembangan teknologi traceability yang digunakan dalam rantai pasok kopi.Menyiapkan Generasi Masa DepanKetua Koperasi ALKO menilai bahwa investasi terbesar dalam pembangunan berkelanjutan bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, tetapi pada manusia.Karena itu, keterlibatan pelajar dalam program ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.Menurutnya, tantangan perubahan iklim akan semakin besar dalam beberapa dekade mendatang. Generasi muda perlu memahami sejak dini bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan."Kami ingin anak-anak Kerinci memahami bahwa mereka hidup di kawasan yang sangat kaya secara ekologis. Mereka harus menjadi generasi yang mampu menjaga sekaligus memanfaatkan potensi tersebut secara bertanggung jawab," ujarnya.Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep karbon secara teori, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan membuang sampah, menanam pohon, hingga menjaga sumber air dan hutan.Kolaborasi Global dari DaerahKunjungan delegasi Jepang ke Kerinci menunjukkan bahwa isu keberlanjutan kini menjadi agenda bersama lintas negara.Apa yang dilakukan petani di lereng Gunung Kerinci tidak lagi hanya berdampak pada komunitas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya global dalam menghadapi perubahan iklim.Kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank, dan Saka No Tochu menjadi contoh bagaimana kemitraan internasional dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh masyarakat secara langsung.Dari kebun kopi hingga ruang kelas sekolah, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau perusahaan besar, tetapi juga oleh tindakan sehari-hari masyarakat dan generasi muda.Melalui edukasi kepada 400 pelajar Kerinci, ALKO dan mitra Jepang berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi sebagai warisan bersama bagi masa depan.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Pagi itu udara Kayu Aro masih dingin. Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Kerinci ketika sebuah rombongan tamu dari Jepang tiba di kawasan perkebunan kopi yang menjadi pusat aktivitas Koperasi ALKO. Mereka bukan wisatawan yang datang untuk menikmati panorama gunung tertinggi di Sumatra. Mereka datang membawa misi yang lebih besar: melihat bagaimana petani kopi di Kerinci membangun masa depan melalui praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan karbon.Delegasi tersebut terdiri dari Mr. Ryota Tasai, Project Manager dari Saka No Tochu Jepang, Ms. Mizuho Shigemura, Ms. Mai Satouchi, dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo. Kedatangan mereka menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pertanian rendah karbon berbasis koperasi di Indonesia.Bagi masyarakat Kerinci, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di balik pertemuan dan diskusi yang berlangsung, tersimpan pertanyaan besar yang kini menjadi perhatian dunia: bagaimana petani kecil dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim global sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka?Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui pendekatan yang dikenal sebagai Carbon DNA.Dari Kopi ke KarbonSelama bertahun-tahun, petani kopi identik dengan persoalan harga. Ketika harga naik, petani tersenyum. Ketika harga turun, petani harus bertahan dengan berbagai keterbatasan. Namun perubahan iklim menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks.Cuaca yang semakin tidak menentu mulai memengaruhi produktivitas kebun kopi. Curah hujan berubah, suhu meningkat, dan serangan hama menjadi lebih sulit diprediksi. Di berbagai negara penghasil kopi, ancaman ini telah menjadi perhatian serius.Koperasi ALKO melihat bahwa masa depan kopi tidak lagi hanya berbicara tentang produksi dan perdagangan. Masa depan kopi juga berkaitan dengan kemampuan petani menjaga ekosistem tempat mereka hidup.Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep Carbon DNA, sebuah sistem yang berupaya mengukur, mendokumentasikan, dan meningkatkan kontribusi petani terhadap keberlanjutan lingkungan.Melalui pendekatan ini, aktivitas petani tidak hanya dicatat dari jumlah panen yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana mereka menjaga tutupan pohon, mengelola limbah organik, mengurangi penggunaan bahan kimia, hingga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar kebun."Kami ingin melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA dan bagaimana manfaatnya terhadap kehidupan mereka," ujar Mai Satouchi dari Resona Bank saat berdiskusi dengan pengurus koperasi.Bagi Resona Bank, program ini merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang. Mereka melihat bahwa keberlanjutan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan ekonomi masyarakat.Belajar dari KerinciKerinci bukan daerah yang asing bagi dunia kopi.Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi arabika terbaik Indonesia. Kebun-kebun kopi tumbuh di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang Taman Nasional Kerinci Seblat.Namun ALKO mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.Jika selama ini kopi dinilai berdasarkan rasa dan kualitas fisik biji, ALKO mulai membangun pendekatan baru: kopi yang memiliki identitas lingkungan.Setiap kebun anggota koperasi didorong memiliki data yang jelas mengenai kondisi lahan, jumlah pohon pelindung, praktik budidaya, hingga aktivitas konservasi yang dilakukan petani.Data tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem traceability yang memungkinkan pembeli mengetahui asal-usul kopi secara lebih detail.Dalam praktiknya, konsep ini semakin penting karena banyak negara mulai menerapkan regulasi keberlanjutan yang ketat.Uni Eropa misalnya telah mengeluarkan kebijakan EUDR (European Union Deforestation Regulation) yang mewajibkan produk pertanian memiliki informasi jelas terkait asal-usul lahan.Bagi ALKO, Carbon DNA bukan hanya alat untuk menjawab tuntutan pasar global, tetapi juga sarana untuk memastikan petani memperoleh manfaat dari praktik yang selama ini mereka lakukan.Tiga Tahun yang Mengubah Banyak HalKerja sama ALKO dengan Resona Bank dimulai tiga tahun lalu. Pada tahap awal, fokus utama adalah membangun pemahaman mengenai pentingnya keberlanjutan di tingkat petani.Tidak mudah.Sebagian petani menganggap isu karbon terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Yang mereka pikirkan adalah panen, harga kopi, dan kebutuhan keluarga.Namun pendekatan yang dilakukan ALKO berbeda. Mereka tidak memulai dengan istilah teknis yang rumit.Petani diajak memahami bahwa pohon yang tumbuh di kebun mereka memiliki nilai. Sampah yang selama ini dibuang dapat diolah. Air yang digunakan harus dijaga kualitasnya. Bahkan aktivitas sederhana seperti menanam pohon pelindung memiliki kontribusi terhadap lingkungan global.Perlahan-lahan perubahan mulai terlihat.Kini semakin banyak petani yang memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan peluang ekonomi.Pasar internasional mulai memberikan perhatian lebih kepada produk yang memiliki rekam jejak lingkungan yang baik.Dalam konteks inilah Carbon DNA menjadi relevan.Menyambungkan Petani dengan DuniaBagi Ryota Tasai dari Saka No Tochu, program ini memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar pengurangan emisi karbon.Menurutnya, tantangan terbesar petani kecil di banyak negara adalah keterhubungan dengan pasar global.Sering kali petani menghasilkan produk berkualitas tinggi tetapi tidak memiliki akses terhadap informasi dan jaringan yang memadai.Melalui sistem yang dibangun bersama ALKO, petani didorong untuk memiliki data yang kuat mengenai produk mereka.Data tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun kepercayaan pasar."Kepercayaan adalah mata uang paling penting dalam perdagangan masa depan," ujar Ryota dalam salah satu sesi diskusi.Di era digital, konsumen tidak hanya ingin mengetahui rasa kopi yang mereka minum. Mereka juga ingin mengetahui siapa yang menanamnya, bagaimana kopi tersebut diproduksi, dan apakah prosesnya ramah lingkungan.Di sinilah teknologi dan keberlanjutan bertemu.Generasi Muda dan Masa Depan KarbonSalah satu agenda penting kunjungan kali ini adalah sosialisasi kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci.Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu karbon tidak lagi hanya menjadi urusan petani dan pelaku usaha.Generasi muda dianggap sebagai aktor penting dalam membangun kesadaran lingkungan jangka panjang.ALKO dan mitra Jepang percaya bahwa perubahan perilaku harus dimulai sejak usia sekolah.Para siswa akan diperkenalkan pada konsep perubahan iklim, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, hingga hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan emisi karbon.Program ini menjadi bagian dari pengembangan ALKO Academy yang selama beberapa tahun terakhir aktif melakukan edukasi lingkungan di Kerinci.Melalui pendekatan tersebut, ALKO berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi.Peluang Baru bagi PetaniDi berbagai negara, pasar karbon mulai berkembang menjadi salah satu instrumen ekonomi baru.Masyarakat global semakin menyadari bahwa menjaga lingkungan memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.Meski masih berada pada tahap awal, peluang tersebut mulai dilihat oleh ALKO dan mitra Jepang.Jika sistem pengukuran dan dokumentasi dapat dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin petani kopi suatu saat memperoleh manfaat tambahan dari kontribusi mereka terhadap pengurangan emisi.Bagi petani Kerinci, peluang ini menjadi sesuatu yang menarik.Selama ini mereka hanya memperoleh pendapatan dari hasil panen kopi. Ke depan, praktik keberlanjutan yang mereka lakukan dapat memiliki nilai ekonomi tersendiri.Laboratorium KeberlanjutanKunjungan delegasi Jepang selama beberapa hari di Kerinci akan mencakup berbagai agenda.Mereka akan mengunjungi kebun kopi, fasilitas pengolahan, program pengelolaan sampah, hingga aktivitas edukasi lingkungan yang dijalankan koperasi.Semua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat bagaimana sebuah komunitas petani membangun model pembangunan berkelanjutan dari tingkat lokal.Apa yang dilakukan ALKO mungkin masih terlihat kecil dibanding tantangan perubahan iklim global yang begitu besar.Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.Di kaki Gunung Kerinci, langkah-langkah itu kini sedang berlangsung.Melalui kolaborasi antara petani, koperasi, lembaga keuangan, dan mitra internasional, sebuah model baru sedang dibangun. Model yang mencoba menjawab pertanyaan penting abad ini: bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengorbankan lingkungan.Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, Kerinci bukan sekadar daerah penghasil kopi. Kerinci adalah ruang belajar mengenai bagaimana keberlanjutan dapat tumbuh dari kebun-kebun kecil milik petani.Dan bagi petani ALKO, kunjungan tahun ketiga ini menjadi pengingat bahwa apa yang mereka lakukan di lereng Gunung Kerinci kini mulai mendapat perhatian dunia.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

ยฉ 2021 ALKO - All Rights Reserved.