Kerinci, Jambi โ Isu perubahan iklim yang selama ini banyak dibahas dalam forum internasional kini mulai diperkenalkan secara langsung kepada generasi muda di daerah sentra kopi Indonesia. Melalui kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank Jepang, dan Saka No Tochu, sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kabupaten Kerinci akan mengikuti program edukasi mengenai karbon, lingkungan, dan keberlanjutan sebagai bagian dari kunjungan kerja delegasi Jepang ke Indonesia.
Program ini menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungan tahunan delegasi Jepang yang terdiri dari Mr. Ryota Tasai dan Ms. Mizuho Shigemura dari Saka No Tochu, serta Ms. Mai Satouchi dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo.
Kegiatan tersebut menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pembangunan ekonomi pedesaan berbasis keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan petani kopi.
Menurut Project Manager Saka No Tochu, Ryota Tasai, edukasi generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya membangun kesadaran lingkungan jangka panjang.
"Kegiatan kali ini tidak hanya fokus kepada petani, tetapi juga kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci. Kami ingin memperkenalkan pentingnya karbon, perubahan iklim, dan bagaimana generasi muda dapat berperan dalam menjaga lingkungan sejak dini," ujarnya.
Selama ini kerja sama ALKO dan mitra Jepang lebih banyak dikenal melalui pengembangan sistem pertanian berkelanjutan di tingkat petani. Namun dalam perkembangannya, para pihak melihat bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat berhenti pada sektor produksi semata.
Kesadaran lingkungan harus dibangun sejak usia sekolah.
Kerinci dipilih sebagai lokasi program karena wilayah ini memiliki posisi strategis sebagai kawasan penyangga ekosistem Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus daerah penghasil kopi arabika berkualitas dunia.
Di kawasan ini, hubungan antara masyarakat dan lingkungan berlangsung sangat erat. Sebagian besar kehidupan ekonomi masyarakat bergantung pada sektor pertanian yang sangat dipengaruhi kondisi alam.
Karena itu, pemahaman mengenai karbon dan perubahan iklim dinilai penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda yang kelak akan menjadi pengelola sumber daya alam di daerah tersebut.
Dalam kegiatan tersebut para siswa akan mendapatkan pemahaman mengenai siklus karbon, fungsi pohon dalam menyerap emisi, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, serta hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim global.
Materi akan disampaikan secara interaktif dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh pelajar.
Selain kegiatan edukasi sekolah, kunjungan delegasi Jepang juga bertujuan mengevaluasi perkembangan program Carbon DNA yang selama tiga tahun terakhir dikembangkan bersama Koperasi ALKO.
Carbon DNA merupakan pendekatan yang mengintegrasikan praktik pertanian kopi berkelanjutan dengan pengukuran dan dokumentasi dampak lingkungan di tingkat petani.
Melalui sistem tersebut, aktivitas petani tidak hanya dinilai berdasarkan volume produksi, tetapi juga berdasarkan kontribusinya dalam menjaga ekosistem.
Perwakilan Resona Bank Tokyo, Mai Satouchi, menjelaskan bahwa kunjungan tahun ini difokuskan untuk melihat perkembangan implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan yang telah diterapkan oleh anggota koperasi.
"Ini adalah tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank. Salah satu tujuan kunjungan kami adalah melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA serta manfaat yang dirasakan petani dari program tersebut," kata Mai Satouchi.
Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari aspek lingkungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Bagi mitra Jepang, ALKO dinilai berhasil membangun pendekatan yang unik dalam menggabungkan bisnis kopi, koperasi, edukasi, pengelolaan sampah, hingga pengembangan teknologi digital dalam satu ekosistem.
Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO tidak hanya aktif melakukan ekspor kopi ke berbagai negara, tetapi juga mengembangkan program lingkungan yang melibatkan petani, perempuan, anak muda, dan sekolah-sekolah.
Model tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Resona Bank dan Saka No Tochu terus memperpanjang kolaborasi mereka di Kerinci.
Melalui kunjungan lapangan, para delegasi akan melihat secara langsung aktivitas petani anggota koperasi, fasilitas pengolahan kopi, pengelolaan sampah, program edukasi lingkungan, hingga pengembangan teknologi traceability yang digunakan dalam rantai pasok kopi.
Ketua Koperasi ALKO menilai bahwa investasi terbesar dalam pembangunan berkelanjutan bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, tetapi pada manusia.
Karena itu, keterlibatan pelajar dalam program ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.
Menurutnya, tantangan perubahan iklim akan semakin besar dalam beberapa dekade mendatang. Generasi muda perlu memahami sejak dini bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
"Kami ingin anak-anak Kerinci memahami bahwa mereka hidup di kawasan yang sangat kaya secara ekologis. Mereka harus menjadi generasi yang mampu menjaga sekaligus memanfaatkan potensi tersebut secara bertanggung jawab," ujarnya.
Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep karbon secara teori, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan membuang sampah, menanam pohon, hingga menjaga sumber air dan hutan.
Kunjungan delegasi Jepang ke Kerinci menunjukkan bahwa isu keberlanjutan kini menjadi agenda bersama lintas negara.
Apa yang dilakukan petani di lereng Gunung Kerinci tidak lagi hanya berdampak pada komunitas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya global dalam menghadapi perubahan iklim.
Kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank, dan Saka No Tochu menjadi contoh bagaimana kemitraan internasional dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Dari kebun kopi hingga ruang kelas sekolah, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau perusahaan besar, tetapi juga oleh tindakan sehari-hari masyarakat dan generasi muda.
Melalui edukasi kepada 400 pelajar Kerinci, ALKO dan mitra Jepang berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi sebagai warisan bersama bagi masa depan.