Business Scheme

Admin Alko | 23/07/2024

The business scheme diagram outlines the process and control mechanisms of ALKO Sumatra Kopi from farmer groups to the final budget and business plan. Here's an explanation of the key components and their interactions:

Management ALKO

1. Internal Control System (ICS)

  • Internal Control System (ICS): Oversees the transfer of knowledge, training, mentoring, research and development (R&D), plantation , and quality control (QC).
  • Support: Provides assistance to farmers' groups.

1.1. Farmer Group

  • Farmer Group : Member of Alko Cooperative,Men's farmer groups and women's farmer groups are spread out and harvest coffee
  • Farmers Harvesting: The initial step where farmers collect red cherries.

1.2. Hard Skin Processing Unit (CPU/Collector)

  • Role: Processes the harvested cherries' hard skin.
  • Connection: Receives red cherries from farmers' groups and passes processed material (HS) to Internal Control Production (ICP).
  • FirstFirst Quality Control : The collector is the first recipient from the farmer and carries out quality control to ensure that the coffee harvested complies with the GAP

2. Internal Control Production (ICP)

  • Components:
    • ALKO Warehouse: Storage facility for processed coffee.
    • Sortation Room: Area for sorting the coffee.
    • Production/Greenbean Process: Steps involved in turning cherries into green beans.
  • Supervision & Control: Ensures the processes are managed effectively.

3. Internal Control Financial (ICF)

  • Budget and Business Plan

    • Outcome: All financial activities and marketing efforts culminate in the creation of the budget and business plan.
  • Responsibilities:
    • Manages financial transactions and controls.
    • Ensures payment to the CPU/Collector.
    • Handles income from sales and allocates it accordingly.
    • Oversees financial mapping, cash flow, budgeting, loans, and benefit sharing.

4. Internal Control Marketing (ICM)

  • Salles 
  • Tasks:
    • Conducts marketing planning.
    • Sets marketing targets and strategies.
    • Drives sales from customers.

Workflow Summary:

  1. Farmers harvest red cherries.
  2. The harvested cherries are processed by the Hard Skin Processing Unit (CPU/Collector), under Internal Control System ( ICS).
  3. Processed cherries (HS) are sent to Internal Control Production (ICP).
  4. ICP manages the warehousing, sorting, and production/green bean processing.
  5. The Internal Control Financial (ICF) handles payments to the CPU/Collector and manages overall financial health.
  6. Sales generated by Internal Control Marketing ( ICM) contribute to the income.
  7. All financial and marketing activities are consolidated into a budget and business plan.

This structured approach ensures quality control, effective production, and financial management, leading to a sustainable business model for ALKO Sumatra Kopi.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

KERINCI โ€” ALKO Academy kembali menjadi pusat perhatian mitra internasional. Pada awal Juni 2026, delegasi dari Jepang yang terdiri dari perwakilan Resona Bank Tokyo dan Saka No Tochu tiba di Kerinci untuk melakukan kunjungan lapangan sekaligus evaluasi program kerja sama yang telah berjalan selama tiga tahun bersama Koperasi ALKO.Menariknya, kunjungan kali ini juga bertepatan dengan kedatangan seorang mahasiswa magang asal Paris, Prancis, yang akan mempelajari model pengembangan ekonomi berbasis kopi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan ALKO di Kabupaten Kerinci.Kehadiran tamu dari dua benua tersebut memperlihatkan bahwa praktik yang dibangun dari kawasan kaki Gunung Kerinci mulai menarik perhatian dunia sebagai contoh pengembangan komunitas berbasis pertanian berkelanjutan.Rombongan disambut di ALKO Academy, pusat pembelajaran yang selama ini menjadi ruang kolaborasi bagi petani, mahasiswa, peneliti, pelaku usaha, hingga mitra internasional yang ingin memahami ekosistem kopi Indonesia secara lebih mendalam.Menurut pihak ALKO, kunjungan tahun ini memiliki fokus yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain meninjau perkembangan program Carbon DNA dan pertanian berkelanjutan, delegasi juga akan mempelajari bagaimana koperasi mampu mengintegrasikan berbagai sektor, mulai dari produksi kopi, pendidikan petani, pengelolaan sampah, pemberdayaan perempuan, pengembangan anak muda, hingga transformasi digital berbasis blockchain.โ€œKerinci bukan hanya tentang kopi. Yang ingin kami tunjukkan adalah bagaimana sebuah komunitas desa dapat membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan petani, sekolah, perempuan, generasi muda, dan lingkungan dalam satu sistem yang saling terhubung,โ€ ujar perwakilan ALKO.Selama berada di Kerinci, delegasi Jepang dijadwalkan mengunjungi kebun kopi anggota koperasi, fasilitas pengolahan pascapanen, pusat pengelolaan sampah, serta berbagai unit usaha yang berada dalam ekosistem ALKO.Mereka juga akan berdialog langsung dengan petani untuk melihat dampak penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.Sementara itu, mahasiswa magang dari Paris akan menjalani program pembelajaran lapangan yang berfokus pada model koperasi modern, pengembangan rantai pasok kopi, serta penerapan teknologi dalam pengelolaan usaha masyarakat.Program magang tersebut menjadi bagian dari semakin meningkatnya minat akademisi internasional terhadap praktik pembangunan desa yang menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang.Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO Academy memang berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang menerima berbagai kunjungan dari universitas, lembaga riset, perusahaan, hingga organisasi internasional.Banyak pihak tertarik melihat bagaimana koperasi dapat bertransformasi dari sekadar lembaga ekonomi menjadi pusat inovasi yang mampu menciptakan berbagai program berbasis kebutuhan masyarakat.Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, salah satu aspek yang paling menarik adalah kemampuan ALKO menghubungkan isu lingkungan dengan aktivitas ekonomi petani.Program Carbon DNA yang dikembangkan bersama menjadi contoh bagaimana praktik budidaya kopi dapat didokumentasikan, diukur, dan dikaitkan dengan manfaat ekonomi yang lebih luas.Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan arah pembangunan global yang kini semakin menekankan pentingnya transparansi, keberlanjutan, dan pengurangan emisi karbon.Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa magang dari Prancis menunjukkan bahwa isu keberlanjutan telah menjadi perhatian lintas negara dan lintas generasi.Banyak generasi muda di berbagai belahan dunia mulai mencari contoh nyata mengenai bagaimana komunitas lokal dapat menghadapi tantangan perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan transformasi pasar global.Kerinci, yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kopi arabika berkualitas, kini mulai dikenal sebagai laboratorium sosial untuk berbagai praktik pembangunan berkelanjutan.Keberadaan ALKO Academy menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman lokal dengan kebutuhan pembelajaran global.Melalui kunjungan ini, para tamu tidak hanya belajar mengenai kopi, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat desa membangun masa depan melalui kolaborasi, inovasi, dan semangat gotong royong.Bagi ALKO, kedatangan mitra Jepang dan mahasiswa dari Prancis menjadi bukti bahwa praktik baik yang lahir dari desa memiliki nilai yang dapat dipelajari dunia.Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga ketahanan pangan, pengalaman petani Kerinci menunjukkan bahwa solusi tidak selalu lahir dari kota-kota besar atau pusat industri, melainkan dapat tumbuh dari kebun-kebun kopi yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.Kunjungan ini sekaligus mempertegas posisi ALKO Academy sebagai ruang pembelajaran internasional yang mempertemukan petani, akademisi, pelaku bisnis, dan generasi muda dalam membangun masa depan pertanian yang lebih inklusif, hijau, dan berdaya saing global.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Kerinci, Jambi โ€” Isu perubahan iklim yang selama ini banyak dibahas dalam forum internasional kini mulai diperkenalkan secara langsung kepada generasi muda di daerah sentra kopi Indonesia. Melalui kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank Jepang, dan Saka No Tochu, sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kabupaten Kerinci akan mengikuti program edukasi mengenai karbon, lingkungan, dan keberlanjutan sebagai bagian dari kunjungan kerja delegasi Jepang ke Indonesia.Program ini menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungan tahunan delegasi Jepang yang terdiri dari Mr. Ryota Tasai dan Ms. Mizuho Shigemura dari Saka No Tochu, serta Ms. Mai Satouchi dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo.Kegiatan tersebut menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pembangunan ekonomi pedesaan berbasis keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan petani kopi.Menurut Project Manager Saka No Tochu, Ryota Tasai, edukasi generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya membangun kesadaran lingkungan jangka panjang."Kegiatan kali ini tidak hanya fokus kepada petani, tetapi juga kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci. Kami ingin memperkenalkan pentingnya karbon, perubahan iklim, dan bagaimana generasi muda dapat berperan dalam menjaga lingkungan sejak dini," ujarnya.Dari Kebun Kopi ke Ruang KelasSelama ini kerja sama ALKO dan mitra Jepang lebih banyak dikenal melalui pengembangan sistem pertanian berkelanjutan di tingkat petani. Namun dalam perkembangannya, para pihak melihat bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat berhenti pada sektor produksi semata.Kesadaran lingkungan harus dibangun sejak usia sekolah.Kerinci dipilih sebagai lokasi program karena wilayah ini memiliki posisi strategis sebagai kawasan penyangga ekosistem Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus daerah penghasil kopi arabika berkualitas dunia.Di kawasan ini, hubungan antara masyarakat dan lingkungan berlangsung sangat erat. Sebagian besar kehidupan ekonomi masyarakat bergantung pada sektor pertanian yang sangat dipengaruhi kondisi alam.Karena itu, pemahaman mengenai karbon dan perubahan iklim dinilai penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda yang kelak akan menjadi pengelola sumber daya alam di daerah tersebut.Dalam kegiatan tersebut para siswa akan mendapatkan pemahaman mengenai siklus karbon, fungsi pohon dalam menyerap emisi, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, serta hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim global.Materi akan disampaikan secara interaktif dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh pelajar.Melihat Perkembangan Carbon DNASelain kegiatan edukasi sekolah, kunjungan delegasi Jepang juga bertujuan mengevaluasi perkembangan program Carbon DNA yang selama tiga tahun terakhir dikembangkan bersama Koperasi ALKO.Carbon DNA merupakan pendekatan yang mengintegrasikan praktik pertanian kopi berkelanjutan dengan pengukuran dan dokumentasi dampak lingkungan di tingkat petani.Melalui sistem tersebut, aktivitas petani tidak hanya dinilai berdasarkan volume produksi, tetapi juga berdasarkan kontribusinya dalam menjaga ekosistem.Perwakilan Resona Bank Tokyo, Mai Satouchi, menjelaskan bahwa kunjungan tahun ini difokuskan untuk melihat perkembangan implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan yang telah diterapkan oleh anggota koperasi."Ini adalah tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank. Salah satu tujuan kunjungan kami adalah melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA serta manfaat yang dirasakan petani dari program tersebut," kata Mai Satouchi.Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari aspek lingkungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.Model Pemberdayaan yang Menarik Perhatian JepangBagi mitra Jepang, ALKO dinilai berhasil membangun pendekatan yang unik dalam menggabungkan bisnis kopi, koperasi, edukasi, pengelolaan sampah, hingga pengembangan teknologi digital dalam satu ekosistem.Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO tidak hanya aktif melakukan ekspor kopi ke berbagai negara, tetapi juga mengembangkan program lingkungan yang melibatkan petani, perempuan, anak muda, dan sekolah-sekolah.Model tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Resona Bank dan Saka No Tochu terus memperpanjang kolaborasi mereka di Kerinci.Melalui kunjungan lapangan, para delegasi akan melihat secara langsung aktivitas petani anggota koperasi, fasilitas pengolahan kopi, pengelolaan sampah, program edukasi lingkungan, hingga pengembangan teknologi traceability yang digunakan dalam rantai pasok kopi.Menyiapkan Generasi Masa DepanKetua Koperasi ALKO menilai bahwa investasi terbesar dalam pembangunan berkelanjutan bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, tetapi pada manusia.Karena itu, keterlibatan pelajar dalam program ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.Menurutnya, tantangan perubahan iklim akan semakin besar dalam beberapa dekade mendatang. Generasi muda perlu memahami sejak dini bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan."Kami ingin anak-anak Kerinci memahami bahwa mereka hidup di kawasan yang sangat kaya secara ekologis. Mereka harus menjadi generasi yang mampu menjaga sekaligus memanfaatkan potensi tersebut secara bertanggung jawab," ujarnya.Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep karbon secara teori, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan membuang sampah, menanam pohon, hingga menjaga sumber air dan hutan.Kolaborasi Global dari DaerahKunjungan delegasi Jepang ke Kerinci menunjukkan bahwa isu keberlanjutan kini menjadi agenda bersama lintas negara.Apa yang dilakukan petani di lereng Gunung Kerinci tidak lagi hanya berdampak pada komunitas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya global dalam menghadapi perubahan iklim.Kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank, dan Saka No Tochu menjadi contoh bagaimana kemitraan internasional dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh masyarakat secara langsung.Dari kebun kopi hingga ruang kelas sekolah, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau perusahaan besar, tetapi juga oleh tindakan sehari-hari masyarakat dan generasi muda.Melalui edukasi kepada 400 pelajar Kerinci, ALKO dan mitra Jepang berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi sebagai warisan bersama bagi masa depan.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Pagi itu udara Kayu Aro masih dingin. Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Kerinci ketika sebuah rombongan tamu dari Jepang tiba di kawasan perkebunan kopi yang menjadi pusat aktivitas Koperasi ALKO. Mereka bukan wisatawan yang datang untuk menikmati panorama gunung tertinggi di Sumatra. Mereka datang membawa misi yang lebih besar: melihat bagaimana petani kopi di Kerinci membangun masa depan melalui praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan karbon.Delegasi tersebut terdiri dari Mr. Ryota Tasai, Project Manager dari Saka No Tochu Jepang, Ms. Mizuho Shigemura, Ms. Mai Satouchi, dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo. Kedatangan mereka menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pertanian rendah karbon berbasis koperasi di Indonesia.Bagi masyarakat Kerinci, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di balik pertemuan dan diskusi yang berlangsung, tersimpan pertanyaan besar yang kini menjadi perhatian dunia: bagaimana petani kecil dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim global sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka?Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui pendekatan yang dikenal sebagai Carbon DNA.Dari Kopi ke KarbonSelama bertahun-tahun, petani kopi identik dengan persoalan harga. Ketika harga naik, petani tersenyum. Ketika harga turun, petani harus bertahan dengan berbagai keterbatasan. Namun perubahan iklim menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks.Cuaca yang semakin tidak menentu mulai memengaruhi produktivitas kebun kopi. Curah hujan berubah, suhu meningkat, dan serangan hama menjadi lebih sulit diprediksi. Di berbagai negara penghasil kopi, ancaman ini telah menjadi perhatian serius.Koperasi ALKO melihat bahwa masa depan kopi tidak lagi hanya berbicara tentang produksi dan perdagangan. Masa depan kopi juga berkaitan dengan kemampuan petani menjaga ekosistem tempat mereka hidup.Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep Carbon DNA, sebuah sistem yang berupaya mengukur, mendokumentasikan, dan meningkatkan kontribusi petani terhadap keberlanjutan lingkungan.Melalui pendekatan ini, aktivitas petani tidak hanya dicatat dari jumlah panen yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana mereka menjaga tutupan pohon, mengelola limbah organik, mengurangi penggunaan bahan kimia, hingga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar kebun."Kami ingin melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA dan bagaimana manfaatnya terhadap kehidupan mereka," ujar Mai Satouchi dari Resona Bank saat berdiskusi dengan pengurus koperasi.Bagi Resona Bank, program ini merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang. Mereka melihat bahwa keberlanjutan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan ekonomi masyarakat.Belajar dari KerinciKerinci bukan daerah yang asing bagi dunia kopi.Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi arabika terbaik Indonesia. Kebun-kebun kopi tumbuh di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang Taman Nasional Kerinci Seblat.Namun ALKO mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.Jika selama ini kopi dinilai berdasarkan rasa dan kualitas fisik biji, ALKO mulai membangun pendekatan baru: kopi yang memiliki identitas lingkungan.Setiap kebun anggota koperasi didorong memiliki data yang jelas mengenai kondisi lahan, jumlah pohon pelindung, praktik budidaya, hingga aktivitas konservasi yang dilakukan petani.Data tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem traceability yang memungkinkan pembeli mengetahui asal-usul kopi secara lebih detail.Dalam praktiknya, konsep ini semakin penting karena banyak negara mulai menerapkan regulasi keberlanjutan yang ketat.Uni Eropa misalnya telah mengeluarkan kebijakan EUDR (European Union Deforestation Regulation) yang mewajibkan produk pertanian memiliki informasi jelas terkait asal-usul lahan.Bagi ALKO, Carbon DNA bukan hanya alat untuk menjawab tuntutan pasar global, tetapi juga sarana untuk memastikan petani memperoleh manfaat dari praktik yang selama ini mereka lakukan.Tiga Tahun yang Mengubah Banyak HalKerja sama ALKO dengan Resona Bank dimulai tiga tahun lalu. Pada tahap awal, fokus utama adalah membangun pemahaman mengenai pentingnya keberlanjutan di tingkat petani.Tidak mudah.Sebagian petani menganggap isu karbon terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Yang mereka pikirkan adalah panen, harga kopi, dan kebutuhan keluarga.Namun pendekatan yang dilakukan ALKO berbeda. Mereka tidak memulai dengan istilah teknis yang rumit.Petani diajak memahami bahwa pohon yang tumbuh di kebun mereka memiliki nilai. Sampah yang selama ini dibuang dapat diolah. Air yang digunakan harus dijaga kualitasnya. Bahkan aktivitas sederhana seperti menanam pohon pelindung memiliki kontribusi terhadap lingkungan global.Perlahan-lahan perubahan mulai terlihat.Kini semakin banyak petani yang memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan peluang ekonomi.Pasar internasional mulai memberikan perhatian lebih kepada produk yang memiliki rekam jejak lingkungan yang baik.Dalam konteks inilah Carbon DNA menjadi relevan.Menyambungkan Petani dengan DuniaBagi Ryota Tasai dari Saka No Tochu, program ini memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar pengurangan emisi karbon.Menurutnya, tantangan terbesar petani kecil di banyak negara adalah keterhubungan dengan pasar global.Sering kali petani menghasilkan produk berkualitas tinggi tetapi tidak memiliki akses terhadap informasi dan jaringan yang memadai.Melalui sistem yang dibangun bersama ALKO, petani didorong untuk memiliki data yang kuat mengenai produk mereka.Data tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun kepercayaan pasar."Kepercayaan adalah mata uang paling penting dalam perdagangan masa depan," ujar Ryota dalam salah satu sesi diskusi.Di era digital, konsumen tidak hanya ingin mengetahui rasa kopi yang mereka minum. Mereka juga ingin mengetahui siapa yang menanamnya, bagaimana kopi tersebut diproduksi, dan apakah prosesnya ramah lingkungan.Di sinilah teknologi dan keberlanjutan bertemu.Generasi Muda dan Masa Depan KarbonSalah satu agenda penting kunjungan kali ini adalah sosialisasi kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci.Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu karbon tidak lagi hanya menjadi urusan petani dan pelaku usaha.Generasi muda dianggap sebagai aktor penting dalam membangun kesadaran lingkungan jangka panjang.ALKO dan mitra Jepang percaya bahwa perubahan perilaku harus dimulai sejak usia sekolah.Para siswa akan diperkenalkan pada konsep perubahan iklim, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, hingga hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan emisi karbon.Program ini menjadi bagian dari pengembangan ALKO Academy yang selama beberapa tahun terakhir aktif melakukan edukasi lingkungan di Kerinci.Melalui pendekatan tersebut, ALKO berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi.Peluang Baru bagi PetaniDi berbagai negara, pasar karbon mulai berkembang menjadi salah satu instrumen ekonomi baru.Masyarakat global semakin menyadari bahwa menjaga lingkungan memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.Meski masih berada pada tahap awal, peluang tersebut mulai dilihat oleh ALKO dan mitra Jepang.Jika sistem pengukuran dan dokumentasi dapat dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin petani kopi suatu saat memperoleh manfaat tambahan dari kontribusi mereka terhadap pengurangan emisi.Bagi petani Kerinci, peluang ini menjadi sesuatu yang menarik.Selama ini mereka hanya memperoleh pendapatan dari hasil panen kopi. Ke depan, praktik keberlanjutan yang mereka lakukan dapat memiliki nilai ekonomi tersendiri.Laboratorium KeberlanjutanKunjungan delegasi Jepang selama beberapa hari di Kerinci akan mencakup berbagai agenda.Mereka akan mengunjungi kebun kopi, fasilitas pengolahan, program pengelolaan sampah, hingga aktivitas edukasi lingkungan yang dijalankan koperasi.Semua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat bagaimana sebuah komunitas petani membangun model pembangunan berkelanjutan dari tingkat lokal.Apa yang dilakukan ALKO mungkin masih terlihat kecil dibanding tantangan perubahan iklim global yang begitu besar.Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.Di kaki Gunung Kerinci, langkah-langkah itu kini sedang berlangsung.Melalui kolaborasi antara petani, koperasi, lembaga keuangan, dan mitra internasional, sebuah model baru sedang dibangun. Model yang mencoba menjawab pertanyaan penting abad ini: bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengorbankan lingkungan.Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, Kerinci bukan sekadar daerah penghasil kopi. Kerinci adalah ruang belajar mengenai bagaimana keberlanjutan dapat tumbuh dari kebun-kebun kecil milik petani.Dan bagi petani ALKO, kunjungan tahun ketiga ini menjadi pengingat bahwa apa yang mereka lakukan di lereng Gunung Kerinci kini mulai mendapat perhatian dunia.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

ยฉ 2021 ALKO - All Rights Reserved.