“Blockchain Jadi Kunci UMKM Naik Kelas”: ALKO Bagikan Strategi Ekspor Kopi Global di Pesta Wirausaha Depok 2026

Admin Alko | 18/05/2026


Depok —17/5, Transformasi digital dan teknologi blockchain dinilai menjadi salah satu kunci utama agar produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar global. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pesta Wirausaha Depok 2026 yang digelar oleh TDA Depok dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Depok dan peringatan Hari UMKM Depok.

Dalam sesi bertajuk “The Future Mindset: Strategi Implementasi Teknologi Blockchain untuk Meningkatkan Kredibilitas dan Daya Saing di Pasar Global”, Founder dan CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, hadir sebagai pembicara utama. Acara dipandu oleh Founder & CEO Kode Creative Hub, Didi Diarsa, dan dihadiri pelaku UMKM, startup, komunitas bisnis, mahasiswa, hingga pengusaha muda dari berbagai sektor.

Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana pelaku usaha lokal dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses pasar internasional, meningkatkan transparansi usaha, dan membangun kepercayaan buyer global.

Dalam pemaparannya, Suryono membagikan pengalaman ALKO membangun jaringan ekspor kopi Indonesia ke berbagai negara, mulai dari Italia, Malaysia, Oman, hingga pasar specialty coffee Eropa lainnya. Menurutnya, tantangan terbesar UMKM Indonesia bukan hanya kualitas produk, tetapi juga kemampuan memenuhi standar pasar internasional yang semakin ketat.

“Pasar global hari ini tidak cukup hanya bicara rasa dan kualitas. Buyer luar negeri ingin tahu asal produk, siapa petaninya, bagaimana proses produksinya, sampai bagaimana sistem transparansinya. Di situlah teknologi blockchain dan traceability menjadi penting,” ujar Suryono di hadapan peserta seminar.

Ia menjelaskan, ALKO selama beberapa tahun terakhir mengembangkan sistem traceability berbasis blockchain melalui aplikasi QThink-X, yang digunakan untuk mendata petani, lokasi kebun, proses pasca panen, hingga jalur distribusi ekspor kopi.

Teknologi tersebut kini menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem kopi rakyat Indonesia agar mampu memenuhi regulasi pasar internasional, termasuk standar keberlanjutan dan transparansi rantai pasok.

Berbagi Pengalaman Ekspor Global

Dalam sesi diskusi interaktif, Suryono juga membagikan pengalaman praktis ALKO dalam membangun pasar ekspor dari daerah hingga menembus buyer internasional.

Menurutnya, banyak pelaku UMKM Indonesia sebenarnya memiliki produk berkualitas, tetapi gagal masuk pasar global karena kurang memahami mekanisme ekspor dan kebutuhan buyer luar negeri.

Ia menekankan ada tiga hal penting yang harus dipahami pelaku usaha sebelum masuk pasar internasional.

Pertama, memahami regulasi negara tujuan ekspor. Setiap negara memiliki aturan berbeda terkait produk pangan, sertifikasi, keamanan produk, hingga dokumen legalitas.

“Kadang produk kita bagus, tetapi ditolak karena dokumen tidak lengkap atau standar negara tujuan tidak dipenuhi. Jadi UMKM harus belajar regulasi pasar tujuan,” katanya.

Kedua, mengenali buyer yang kredibel dan memiliki rekam jejak jelas. Menurutnya, banyak eksportir pemula mengalami kendala pembayaran hingga penipuan karena tidak melakukan verifikasi buyer secara matang.

“Jangan hanya tergiur order besar. Pastikan buyer jelas, perusahaan aktif, dan memiliki sistem pembayaran yang aman,” ujarnya.

Ketiga, memahami teknis pengiriman dan sistem pembayaran internasional. Mulai dari jalur logistik, asuransi, metode pembayaran, hingga manajemen risiko ekspor harus dipahami dengan baik oleh pelaku usaha.

Suryono mencontohkan pengalaman ALKO dalam melakukan ekspor kopi specialty menggunakan jalur laut maupun udara ke berbagai negara. Bahkan, dalam salah satu pengiriman ke Oman, biaya logistik udara mencapai lebih tinggi dibanding harga kopi itu sendiri.

Namun menurutnya, pasar specialty tetap membuka peluang besar selama kualitas dan konsistensi produk dapat dijaga.

Blockchain dan Masa Depan UMKM Indonesia

Dalam forum tersebut, konsep blockchain menjadi salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta. Banyak pelaku usaha mulai menyadari bahwa pasar internasional kini bergerak menuju sistem perdagangan yang lebih transparan dan terintegrasi secara digital.

Suryono menjelaskan bahwa blockchain bukan sekadar teknologi cryptocurrency, tetapi dapat digunakan sebagai sistem pencatatan data rantai pasok yang tidak mudah dimanipulasi.

Melalui sistem tersebut, buyer dapat mengetahui asal produk secara lebih jelas, termasuk lokasi kebun, identitas petani, proses produksi, hingga jalur distribusi.

Menurutnya, sistem seperti ini akan menjadi standar baru dalam perdagangan global, terutama untuk komoditas pangan dan pertanian.

“Ke depan, buyer tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita, transparansi, dan keberlanjutan. Blockchain membantu membangun kepercayaan itu,” katanya.

ALKO sendiri telah menerapkan sistem traceability digital untuk berbagai pengiriman kopi specialty Indonesia ke pasar Eropa dan Timur Tengah. Sistem tersebut menjadi bagian dari strategi peningkatan daya saing kopi rakyat Indonesia di pasar premium global.

Antusiasme Peserta UMKM

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Banyak peserta menanyakan bagaimana langkah awal UMKM untuk mulai melakukan ekspor dan memanfaatkan teknologi digital dalam bisnis mereka.

Sebagian peserta juga tertarik dengan model pemberdayaan petani dan koperasi yang diterapkan ALKO dalam membangun rantai pasok kopi berbasis komunitas.

Panitia Pesta Wirausaha Depok 2026 menyebut tema teknologi dan blockchain dipilih karena relevan dengan tantangan baru UMKM Indonesia di era digital.

“Kami ingin pelaku usaha di Depok tidak hanya fokus pasar lokal, tetapi mulai berpikir global dan memahami teknologi masa depan,” ujar salah satu panitia acara.

Selain seminar bisnis dan teknologi, Pesta Wirausaha Depok 2026 juga menghadirkan pameran produk UMKM, networking bisnis, pelatihan kewirausahaan, serta kolaborasi komunitas kreatif dan startup.

Acara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kewirausahaan di Kota Depok sekaligus mendorong UMKM naik kelas melalui inovasi dan transformasi digital.

Dorongan untuk UMKM Naik Kelas

Di akhir sesi, Suryono menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama produk specialty dan produk berbasis komunitas di pasar global. Namun, menurutnya, pelaku usaha harus mulai beradaptasi dengan perubahan sistem perdagangan internasional.

“UMKM Indonesia harus mulai berani masuk pasar global. Jangan takut dengan teknologi. Justru teknologi bisa membantu produk lokal lebih dipercaya dunia,” katanya.


Ia juga mendorong generasi muda dan komunitas startup untuk masuk ke sektor pertanian dan pangan, karena menurutnya masa depan industri global akan semakin membutuhkan produk yang memiliki identitas, keberlanjutan, dan transparansi.

Bagi ALKO, penguatan petani, koperasi, teknologi, dan akses pasar internasional merupakan satu ekosistem yang harus berjalan bersama.

Melalui forum seperti Pesta Wirausaha Depok 2026, ALKO berharap semakin banyak UMKM Indonesia yang mampu membangun produk berstandar global tanpa kehilangan identitas lokalnya.

Share this :
Share this :

Blog

Other News recommendations for you

Blog

Other News recommendations for you

KERINCI — ALKO Academy kembali menjadi pusat perhatian mitra internasional. Pada awal Juni 2026, delegasi dari Jepang yang terdiri dari perwakilan Resona Bank Tokyo dan Saka No Tochu tiba di Kerinci untuk melakukan kunjungan lapangan sekaligus evaluasi program kerja sama yang telah berjalan selama tiga tahun bersama Koperasi ALKO.Menariknya, kunjungan kali ini juga bertepatan dengan kedatangan seorang mahasiswa magang asal Paris, Prancis, yang akan mempelajari model pengembangan ekonomi berbasis kopi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan ALKO di Kabupaten Kerinci.Kehadiran tamu dari dua benua tersebut memperlihatkan bahwa praktik yang dibangun dari kawasan kaki Gunung Kerinci mulai menarik perhatian dunia sebagai contoh pengembangan komunitas berbasis pertanian berkelanjutan.Rombongan disambut di ALKO Academy, pusat pembelajaran yang selama ini menjadi ruang kolaborasi bagi petani, mahasiswa, peneliti, pelaku usaha, hingga mitra internasional yang ingin memahami ekosistem kopi Indonesia secara lebih mendalam.Menurut pihak ALKO, kunjungan tahun ini memiliki fokus yang lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selain meninjau perkembangan program Carbon DNA dan pertanian berkelanjutan, delegasi juga akan mempelajari bagaimana koperasi mampu mengintegrasikan berbagai sektor, mulai dari produksi kopi, pendidikan petani, pengelolaan sampah, pemberdayaan perempuan, pengembangan anak muda, hingga transformasi digital berbasis blockchain.“Kerinci bukan hanya tentang kopi. Yang ingin kami tunjukkan adalah bagaimana sebuah komunitas desa dapat membangun ekosistem ekonomi yang melibatkan petani, sekolah, perempuan, generasi muda, dan lingkungan dalam satu sistem yang saling terhubung,” ujar perwakilan ALKO.Selama berada di Kerinci, delegasi Jepang dijadwalkan mengunjungi kebun kopi anggota koperasi, fasilitas pengolahan pascapanen, pusat pengelolaan sampah, serta berbagai unit usaha yang berada dalam ekosistem ALKO.Mereka juga akan berdialog langsung dengan petani untuk melihat dampak penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.Sementara itu, mahasiswa magang dari Paris akan menjalani program pembelajaran lapangan yang berfokus pada model koperasi modern, pengembangan rantai pasok kopi, serta penerapan teknologi dalam pengelolaan usaha masyarakat.Program magang tersebut menjadi bagian dari semakin meningkatnya minat akademisi internasional terhadap praktik pembangunan desa yang menggabungkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara seimbang.Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO Academy memang berkembang menjadi ruang belajar terbuka yang menerima berbagai kunjungan dari universitas, lembaga riset, perusahaan, hingga organisasi internasional.Banyak pihak tertarik melihat bagaimana koperasi dapat bertransformasi dari sekadar lembaga ekonomi menjadi pusat inovasi yang mampu menciptakan berbagai program berbasis kebutuhan masyarakat.Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, salah satu aspek yang paling menarik adalah kemampuan ALKO menghubungkan isu lingkungan dengan aktivitas ekonomi petani.Program Carbon DNA yang dikembangkan bersama menjadi contoh bagaimana praktik budidaya kopi dapat didokumentasikan, diukur, dan dikaitkan dengan manfaat ekonomi yang lebih luas.Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan arah pembangunan global yang kini semakin menekankan pentingnya transparansi, keberlanjutan, dan pengurangan emisi karbon.Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa magang dari Prancis menunjukkan bahwa isu keberlanjutan telah menjadi perhatian lintas negara dan lintas generasi.Banyak generasi muda di berbagai belahan dunia mulai mencari contoh nyata mengenai bagaimana komunitas lokal dapat menghadapi tantangan perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan transformasi pasar global.Kerinci, yang selama ini dikenal sebagai daerah penghasil kopi arabika berkualitas, kini mulai dikenal sebagai laboratorium sosial untuk berbagai praktik pembangunan berkelanjutan.Keberadaan ALKO Academy menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman lokal dengan kebutuhan pembelajaran global.Melalui kunjungan ini, para tamu tidak hanya belajar mengenai kopi, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat desa membangun masa depan melalui kolaborasi, inovasi, dan semangat gotong royong.Bagi ALKO, kedatangan mitra Jepang dan mahasiswa dari Prancis menjadi bukti bahwa praktik baik yang lahir dari desa memiliki nilai yang dapat dipelajari dunia.Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga ketahanan pangan, pengalaman petani Kerinci menunjukkan bahwa solusi tidak selalu lahir dari kota-kota besar atau pusat industri, melainkan dapat tumbuh dari kebun-kebun kopi yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat.Kunjungan ini sekaligus mempertegas posisi ALKO Academy sebagai ruang pembelajaran internasional yang mempertemukan petani, akademisi, pelaku bisnis, dan generasi muda dalam membangun masa depan pertanian yang lebih inklusif, hijau, dan berdaya saing global.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Kerinci, Jambi — Isu perubahan iklim yang selama ini banyak dibahas dalam forum internasional kini mulai diperkenalkan secara langsung kepada generasi muda di daerah sentra kopi Indonesia. Melalui kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank Jepang, dan Saka No Tochu, sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kabupaten Kerinci akan mengikuti program edukasi mengenai karbon, lingkungan, dan keberlanjutan sebagai bagian dari kunjungan kerja delegasi Jepang ke Indonesia.Program ini menjadi salah satu agenda utama dalam kunjungan tahunan delegasi Jepang yang terdiri dari Mr. Ryota Tasai dan Ms. Mizuho Shigemura dari Saka No Tochu, serta Ms. Mai Satouchi dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo.Kegiatan tersebut menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pembangunan ekonomi pedesaan berbasis keberlanjutan lingkungan dan pemberdayaan petani kopi.Menurut Project Manager Saka No Tochu, Ryota Tasai, edukasi generasi muda menjadi bagian penting dalam upaya membangun kesadaran lingkungan jangka panjang."Kegiatan kali ini tidak hanya fokus kepada petani, tetapi juga kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci. Kami ingin memperkenalkan pentingnya karbon, perubahan iklim, dan bagaimana generasi muda dapat berperan dalam menjaga lingkungan sejak dini," ujarnya.Dari Kebun Kopi ke Ruang KelasSelama ini kerja sama ALKO dan mitra Jepang lebih banyak dikenal melalui pengembangan sistem pertanian berkelanjutan di tingkat petani. Namun dalam perkembangannya, para pihak melihat bahwa upaya menjaga lingkungan tidak dapat berhenti pada sektor produksi semata.Kesadaran lingkungan harus dibangun sejak usia sekolah.Kerinci dipilih sebagai lokasi program karena wilayah ini memiliki posisi strategis sebagai kawasan penyangga ekosistem Taman Nasional Kerinci Seblat sekaligus daerah penghasil kopi arabika berkualitas dunia.Di kawasan ini, hubungan antara masyarakat dan lingkungan berlangsung sangat erat. Sebagian besar kehidupan ekonomi masyarakat bergantung pada sektor pertanian yang sangat dipengaruhi kondisi alam.Karena itu, pemahaman mengenai karbon dan perubahan iklim dinilai penting untuk diperkenalkan kepada generasi muda yang kelak akan menjadi pengelola sumber daya alam di daerah tersebut.Dalam kegiatan tersebut para siswa akan mendapatkan pemahaman mengenai siklus karbon, fungsi pohon dalam menyerap emisi, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, serta hubungan antara aktivitas manusia dengan perubahan iklim global.Materi akan disampaikan secara interaktif dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh pelajar.Melihat Perkembangan Carbon DNASelain kegiatan edukasi sekolah, kunjungan delegasi Jepang juga bertujuan mengevaluasi perkembangan program Carbon DNA yang selama tiga tahun terakhir dikembangkan bersama Koperasi ALKO.Carbon DNA merupakan pendekatan yang mengintegrasikan praktik pertanian kopi berkelanjutan dengan pengukuran dan dokumentasi dampak lingkungan di tingkat petani.Melalui sistem tersebut, aktivitas petani tidak hanya dinilai berdasarkan volume produksi, tetapi juga berdasarkan kontribusinya dalam menjaga ekosistem.Perwakilan Resona Bank Tokyo, Mai Satouchi, menjelaskan bahwa kunjungan tahun ini difokuskan untuk melihat perkembangan implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan yang telah diterapkan oleh anggota koperasi."Ini adalah tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank. Salah satu tujuan kunjungan kami adalah melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA serta manfaat yang dirasakan petani dari program tersebut," kata Mai Satouchi.Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari aspek lingkungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.Model Pemberdayaan yang Menarik Perhatian JepangBagi mitra Jepang, ALKO dinilai berhasil membangun pendekatan yang unik dalam menggabungkan bisnis kopi, koperasi, edukasi, pengelolaan sampah, hingga pengembangan teknologi digital dalam satu ekosistem.Dalam beberapa tahun terakhir, ALKO tidak hanya aktif melakukan ekspor kopi ke berbagai negara, tetapi juga mengembangkan program lingkungan yang melibatkan petani, perempuan, anak muda, dan sekolah-sekolah.Model tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Resona Bank dan Saka No Tochu terus memperpanjang kolaborasi mereka di Kerinci.Melalui kunjungan lapangan, para delegasi akan melihat secara langsung aktivitas petani anggota koperasi, fasilitas pengolahan kopi, pengelolaan sampah, program edukasi lingkungan, hingga pengembangan teknologi traceability yang digunakan dalam rantai pasok kopi.Menyiapkan Generasi Masa DepanKetua Koperasi ALKO menilai bahwa investasi terbesar dalam pembangunan berkelanjutan bukan hanya pada teknologi atau infrastruktur, tetapi pada manusia.Karena itu, keterlibatan pelajar dalam program ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang.Menurutnya, tantangan perubahan iklim akan semakin besar dalam beberapa dekade mendatang. Generasi muda perlu memahami sejak dini bagaimana menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan."Kami ingin anak-anak Kerinci memahami bahwa mereka hidup di kawasan yang sangat kaya secara ekologis. Mereka harus menjadi generasi yang mampu menjaga sekaligus memanfaatkan potensi tersebut secara bertanggung jawab," ujarnya.Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep karbon secara teori, tetapi juga melihat keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan membuang sampah, menanam pohon, hingga menjaga sumber air dan hutan.Kolaborasi Global dari DaerahKunjungan delegasi Jepang ke Kerinci menunjukkan bahwa isu keberlanjutan kini menjadi agenda bersama lintas negara.Apa yang dilakukan petani di lereng Gunung Kerinci tidak lagi hanya berdampak pada komunitas lokal, tetapi juga menjadi bagian dari upaya global dalam menghadapi perubahan iklim.Kolaborasi antara Koperasi ALKO, Resona Bank, dan Saka No Tochu menjadi contoh bagaimana kemitraan internasional dapat diterjemahkan menjadi program nyata yang menyentuh masyarakat secara langsung.Dari kebun kopi hingga ruang kelas sekolah, pesan yang ingin disampaikan cukup sederhana: masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah atau perusahaan besar, tetapi juga oleh tindakan sehari-hari masyarakat dan generasi muda.Melalui edukasi kepada 400 pelajar Kerinci, ALKO dan mitra Jepang berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi sebagai komoditas unggulan daerah, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi sebagai warisan bersama bagi masa depan.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Pagi itu udara Kayu Aro masih dingin. Kabut tipis menggantung di lereng Gunung Kerinci ketika sebuah rombongan tamu dari Jepang tiba di kawasan perkebunan kopi yang menjadi pusat aktivitas Koperasi ALKO. Mereka bukan wisatawan yang datang untuk menikmati panorama gunung tertinggi di Sumatra. Mereka datang membawa misi yang lebih besar: melihat bagaimana petani kopi di Kerinci membangun masa depan melalui praktik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan karbon.Delegasi tersebut terdiri dari Mr. Ryota Tasai, Project Manager dari Saka No Tochu Jepang, Ms. Mizuho Shigemura, Ms. Mai Satouchi, dan Ms. Minami Shibata dari Resona Bank Tokyo. Kedatangan mereka menandai tahun ketiga kerja sama antara Koperasi ALKO dan Resona Bank dalam mengembangkan model pertanian rendah karbon berbasis koperasi di Indonesia.Bagi masyarakat Kerinci, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Di balik pertemuan dan diskusi yang berlangsung, tersimpan pertanyaan besar yang kini menjadi perhatian dunia: bagaimana petani kecil dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim global sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka?Pertanyaan itulah yang coba dijawab melalui pendekatan yang dikenal sebagai Carbon DNA.Dari Kopi ke KarbonSelama bertahun-tahun, petani kopi identik dengan persoalan harga. Ketika harga naik, petani tersenyum. Ketika harga turun, petani harus bertahan dengan berbagai keterbatasan. Namun perubahan iklim menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks.Cuaca yang semakin tidak menentu mulai memengaruhi produktivitas kebun kopi. Curah hujan berubah, suhu meningkat, dan serangan hama menjadi lebih sulit diprediksi. Di berbagai negara penghasil kopi, ancaman ini telah menjadi perhatian serius.Koperasi ALKO melihat bahwa masa depan kopi tidak lagi hanya berbicara tentang produksi dan perdagangan. Masa depan kopi juga berkaitan dengan kemampuan petani menjaga ekosistem tempat mereka hidup.Dari pemikiran tersebut lahirlah konsep Carbon DNA, sebuah sistem yang berupaya mengukur, mendokumentasikan, dan meningkatkan kontribusi petani terhadap keberlanjutan lingkungan.Melalui pendekatan ini, aktivitas petani tidak hanya dicatat dari jumlah panen yang dihasilkan, tetapi juga dari bagaimana mereka menjaga tutupan pohon, mengelola limbah organik, mengurangi penggunaan bahan kimia, hingga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar kebun."Kami ingin melihat perkembangan petani ALKO dalam menerapkan prinsip Carbon DNA dan bagaimana manfaatnya terhadap kehidupan mereka," ujar Mai Satouchi dari Resona Bank saat berdiskusi dengan pengurus koperasi.Bagi Resona Bank, program ini merupakan bentuk investasi sosial jangka panjang. Mereka melihat bahwa keberlanjutan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari keberlanjutan ekonomi masyarakat.Belajar dari KerinciKerinci bukan daerah yang asing bagi dunia kopi.Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi arabika terbaik Indonesia. Kebun-kebun kopi tumbuh di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut dengan latar belakang Taman Nasional Kerinci Seblat.Namun ALKO mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda.Jika selama ini kopi dinilai berdasarkan rasa dan kualitas fisik biji, ALKO mulai membangun pendekatan baru: kopi yang memiliki identitas lingkungan.Setiap kebun anggota koperasi didorong memiliki data yang jelas mengenai kondisi lahan, jumlah pohon pelindung, praktik budidaya, hingga aktivitas konservasi yang dilakukan petani.Data tersebut kemudian menjadi bagian dari sistem traceability yang memungkinkan pembeli mengetahui asal-usul kopi secara lebih detail.Dalam praktiknya, konsep ini semakin penting karena banyak negara mulai menerapkan regulasi keberlanjutan yang ketat.Uni Eropa misalnya telah mengeluarkan kebijakan EUDR (European Union Deforestation Regulation) yang mewajibkan produk pertanian memiliki informasi jelas terkait asal-usul lahan.Bagi ALKO, Carbon DNA bukan hanya alat untuk menjawab tuntutan pasar global, tetapi juga sarana untuk memastikan petani memperoleh manfaat dari praktik yang selama ini mereka lakukan.Tiga Tahun yang Mengubah Banyak HalKerja sama ALKO dengan Resona Bank dimulai tiga tahun lalu. Pada tahap awal, fokus utama adalah membangun pemahaman mengenai pentingnya keberlanjutan di tingkat petani.Tidak mudah.Sebagian petani menganggap isu karbon terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Yang mereka pikirkan adalah panen, harga kopi, dan kebutuhan keluarga.Namun pendekatan yang dilakukan ALKO berbeda. Mereka tidak memulai dengan istilah teknis yang rumit.Petani diajak memahami bahwa pohon yang tumbuh di kebun mereka memiliki nilai. Sampah yang selama ini dibuang dapat diolah. Air yang digunakan harus dijaga kualitasnya. Bahkan aktivitas sederhana seperti menanam pohon pelindung memiliki kontribusi terhadap lingkungan global.Perlahan-lahan perubahan mulai terlihat.Kini semakin banyak petani yang memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan peluang ekonomi.Pasar internasional mulai memberikan perhatian lebih kepada produk yang memiliki rekam jejak lingkungan yang baik.Dalam konteks inilah Carbon DNA menjadi relevan.Menyambungkan Petani dengan DuniaBagi Ryota Tasai dari Saka No Tochu, program ini memiliki tujuan yang lebih luas dibanding sekadar pengurangan emisi karbon.Menurutnya, tantangan terbesar petani kecil di banyak negara adalah keterhubungan dengan pasar global.Sering kali petani menghasilkan produk berkualitas tinggi tetapi tidak memiliki akses terhadap informasi dan jaringan yang memadai.Melalui sistem yang dibangun bersama ALKO, petani didorong untuk memiliki data yang kuat mengenai produk mereka.Data tersebut kemudian menjadi dasar dalam membangun kepercayaan pasar."Kepercayaan adalah mata uang paling penting dalam perdagangan masa depan," ujar Ryota dalam salah satu sesi diskusi.Di era digital, konsumen tidak hanya ingin mengetahui rasa kopi yang mereka minum. Mereka juga ingin mengetahui siapa yang menanamnya, bagaimana kopi tersebut diproduksi, dan apakah prosesnya ramah lingkungan.Di sinilah teknologi dan keberlanjutan bertemu.Generasi Muda dan Masa Depan KarbonSalah satu agenda penting kunjungan kali ini adalah sosialisasi kepada sekitar 400 siswa sekolah menengah di Kerinci.Langkah tersebut menunjukkan bahwa isu karbon tidak lagi hanya menjadi urusan petani dan pelaku usaha.Generasi muda dianggap sebagai aktor penting dalam membangun kesadaran lingkungan jangka panjang.ALKO dan mitra Jepang percaya bahwa perubahan perilaku harus dimulai sejak usia sekolah.Para siswa akan diperkenalkan pada konsep perubahan iklim, pentingnya menjaga hutan, pengelolaan sampah, hingga hubungan antara aktivitas sehari-hari dengan emisi karbon.Program ini menjadi bagian dari pengembangan ALKO Academy yang selama beberapa tahun terakhir aktif melakukan edukasi lingkungan di Kerinci.Melalui pendekatan tersebut, ALKO berharap lahir generasi baru yang tidak hanya memahami kopi, tetapi juga memahami pentingnya menjaga bumi.Peluang Baru bagi PetaniDi berbagai negara, pasar karbon mulai berkembang menjadi salah satu instrumen ekonomi baru.Masyarakat global semakin menyadari bahwa menjaga lingkungan memiliki nilai ekonomi yang dapat dihitung.Meski masih berada pada tahap awal, peluang tersebut mulai dilihat oleh ALKO dan mitra Jepang.Jika sistem pengukuran dan dokumentasi dapat dibangun dengan baik, bukan tidak mungkin petani kopi suatu saat memperoleh manfaat tambahan dari kontribusi mereka terhadap pengurangan emisi.Bagi petani Kerinci, peluang ini menjadi sesuatu yang menarik.Selama ini mereka hanya memperoleh pendapatan dari hasil panen kopi. Ke depan, praktik keberlanjutan yang mereka lakukan dapat memiliki nilai ekonomi tersendiri.Laboratorium KeberlanjutanKunjungan delegasi Jepang selama beberapa hari di Kerinci akan mencakup berbagai agenda.Mereka akan mengunjungi kebun kopi, fasilitas pengolahan, program pengelolaan sampah, hingga aktivitas edukasi lingkungan yang dijalankan koperasi.Semua kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat bagaimana sebuah komunitas petani membangun model pembangunan berkelanjutan dari tingkat lokal.Apa yang dilakukan ALKO mungkin masih terlihat kecil dibanding tantangan perubahan iklim global yang begitu besar.Namun sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.Di kaki Gunung Kerinci, langkah-langkah itu kini sedang berlangsung.Melalui kolaborasi antara petani, koperasi, lembaga keuangan, dan mitra internasional, sebuah model baru sedang dibangun. Model yang mencoba menjawab pertanyaan penting abad ini: bagaimana meningkatkan kesejahteraan petani tanpa mengorbankan lingkungan.Bagi Resona Bank dan Saka No Tochu, Kerinci bukan sekadar daerah penghasil kopi. Kerinci adalah ruang belajar mengenai bagaimana keberlanjutan dapat tumbuh dari kebun-kebun kecil milik petani.Dan bagi petani ALKO, kunjungan tahun ketiga ini menjadi pengingat bahwa apa yang mereka lakukan di lereng Gunung Kerinci kini mulai mendapat perhatian dunia.

Read More  

Admin Alko | 08/06/2026

Segera hubungi kami untuk kerjasama!

Get Started

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

Lokasi

Kantor:

Jl. Batang Sangir, no.15, rt.04, Batang Sangir, Kayu Aro, Kerinci, Jambi 37163

Gudang:

Jl Raya Sungai Sikai, No 15 RT 04 desa Sungai Sikai, kec. Gunung Tujuh, Kab. Kerinci, Jambi 37063

© 2021 ALKO - All Rights Reserved.