Depok —17/5, Transformasi digital dan teknologi blockchain dinilai menjadi salah satu kunci utama agar produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar global. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pesta Wirausaha Depok 2026 yang digelar oleh TDA Depok dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Depok dan peringatan Hari UMKM Depok.
Dalam sesi bertajuk “The Future Mindset: Strategi Implementasi Teknologi Blockchain untuk Meningkatkan Kredibilitas dan Daya Saing di Pasar Global”, Founder dan CEO PT ALKO Sumatra Kopi, Suryono, hadir sebagai pembicara utama. Acara dipandu oleh Founder & CEO Kode Creative Hub, Didi Diarsa, dan dihadiri pelaku UMKM, startup, komunitas bisnis, mahasiswa, hingga pengusaha muda dari berbagai sektor.
Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana pelaku usaha lokal dapat memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses pasar internasional, meningkatkan transparansi usaha, dan membangun kepercayaan buyer global.
Dalam pemaparannya, Suryono membagikan pengalaman ALKO membangun jaringan ekspor kopi Indonesia ke berbagai negara, mulai dari Italia, Malaysia, Oman, hingga pasar specialty coffee Eropa lainnya. Menurutnya, tantangan terbesar UMKM Indonesia bukan hanya kualitas produk, tetapi juga kemampuan memenuhi standar pasar internasional yang semakin ketat.
“Pasar global hari ini tidak cukup hanya bicara rasa dan kualitas. Buyer luar negeri ingin tahu asal produk, siapa petaninya, bagaimana proses produksinya, sampai bagaimana sistem transparansinya. Di situlah teknologi blockchain dan traceability menjadi penting,” ujar Suryono di hadapan peserta seminar.
Ia menjelaskan, ALKO selama beberapa tahun terakhir mengembangkan sistem traceability berbasis blockchain melalui aplikasi QThink-X, yang digunakan untuk mendata petani, lokasi kebun, proses pasca panen, hingga jalur distribusi ekspor kopi.
Teknologi tersebut kini menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem kopi rakyat Indonesia agar mampu memenuhi regulasi pasar internasional, termasuk standar keberlanjutan dan transparansi rantai pasok.
Dalam sesi diskusi interaktif, Suryono juga membagikan pengalaman praktis ALKO dalam membangun pasar ekspor dari daerah hingga menembus buyer internasional.
Menurutnya, banyak pelaku UMKM Indonesia sebenarnya memiliki produk berkualitas, tetapi gagal masuk pasar global karena kurang memahami mekanisme ekspor dan kebutuhan buyer luar negeri.
Ia menekankan ada tiga hal penting yang harus dipahami pelaku usaha sebelum masuk pasar internasional.
Pertama, memahami regulasi negara tujuan ekspor. Setiap negara memiliki aturan berbeda terkait produk pangan, sertifikasi, keamanan produk, hingga dokumen legalitas.
“Kadang produk kita bagus, tetapi ditolak karena dokumen tidak lengkap atau standar negara tujuan tidak dipenuhi. Jadi UMKM harus belajar regulasi pasar tujuan,” katanya.
Kedua, mengenali buyer yang kredibel dan memiliki rekam jejak jelas. Menurutnya, banyak eksportir pemula mengalami kendala pembayaran hingga penipuan karena tidak melakukan verifikasi buyer secara matang.
“Jangan hanya tergiur order besar. Pastikan buyer jelas, perusahaan aktif, dan memiliki sistem pembayaran yang aman,” ujarnya.
Ketiga, memahami teknis pengiriman dan sistem pembayaran internasional. Mulai dari jalur logistik, asuransi, metode pembayaran, hingga manajemen risiko ekspor harus dipahami dengan baik oleh pelaku usaha.
Suryono mencontohkan pengalaman ALKO dalam melakukan ekspor kopi specialty menggunakan jalur laut maupun udara ke berbagai negara. Bahkan, dalam salah satu pengiriman ke Oman, biaya logistik udara mencapai lebih tinggi dibanding harga kopi itu sendiri.
Namun menurutnya, pasar specialty tetap membuka peluang besar selama kualitas dan konsistensi produk dapat dijaga.
Dalam forum tersebut, konsep blockchain menjadi salah satu topik yang paling menarik perhatian peserta. Banyak pelaku usaha mulai menyadari bahwa pasar internasional kini bergerak menuju sistem perdagangan yang lebih transparan dan terintegrasi secara digital.
Suryono menjelaskan bahwa blockchain bukan sekadar teknologi cryptocurrency, tetapi dapat digunakan sebagai sistem pencatatan data rantai pasok yang tidak mudah dimanipulasi.
Melalui sistem tersebut, buyer dapat mengetahui asal produk secara lebih jelas, termasuk lokasi kebun, identitas petani, proses produksi, hingga jalur distribusi.
Menurutnya, sistem seperti ini akan menjadi standar baru dalam perdagangan global, terutama untuk komoditas pangan dan pertanian.
“Ke depan, buyer tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita, transparansi, dan keberlanjutan. Blockchain membantu membangun kepercayaan itu,” katanya.
ALKO sendiri telah menerapkan sistem traceability digital untuk berbagai pengiriman kopi specialty Indonesia ke pasar Eropa dan Timur Tengah. Sistem tersebut menjadi bagian dari strategi peningkatan daya saing kopi rakyat Indonesia di pasar premium global.
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Banyak peserta menanyakan bagaimana langkah awal UMKM untuk mulai melakukan ekspor dan memanfaatkan teknologi digital dalam bisnis mereka.
Sebagian peserta juga tertarik dengan model pemberdayaan petani dan koperasi yang diterapkan ALKO dalam membangun rantai pasok kopi berbasis komunitas.
Panitia Pesta Wirausaha Depok 2026 menyebut tema teknologi dan blockchain dipilih karena relevan dengan tantangan baru UMKM Indonesia di era digital.
“Kami ingin pelaku usaha di Depok tidak hanya fokus pasar lokal, tetapi mulai berpikir global dan memahami teknologi masa depan,” ujar salah satu panitia acara.
Selain seminar bisnis dan teknologi, Pesta Wirausaha Depok 2026 juga menghadirkan pameran produk UMKM, networking bisnis, pelatihan kewirausahaan, serta kolaborasi komunitas kreatif dan startup.
Acara tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem kewirausahaan di Kota Depok sekaligus mendorong UMKM naik kelas melalui inovasi dan transformasi digital.
Di akhir sesi, Suryono menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama produk specialty dan produk berbasis komunitas di pasar global. Namun, menurutnya, pelaku usaha harus mulai beradaptasi dengan perubahan sistem perdagangan internasional.
“UMKM Indonesia harus mulai berani masuk pasar global. Jangan takut dengan teknologi. Justru teknologi bisa membantu produk lokal lebih dipercaya dunia,” katanya.

Ia juga mendorong generasi muda dan komunitas startup untuk masuk ke sektor pertanian dan pangan, karena menurutnya masa depan industri global akan semakin membutuhkan produk yang memiliki identitas, keberlanjutan, dan transparansi.
Bagi ALKO, penguatan petani, koperasi, teknologi, dan akses pasar internasional merupakan satu ekosistem yang harus berjalan bersama.
Melalui forum seperti Pesta Wirausaha Depok 2026, ALKO berharap semakin banyak UMKM Indonesia yang mampu membangun produk berstandar global tanpa kehilangan identitas lokalnya.