Oleh: Suryono, CEO ALKO Diskusi di satu grup memantik perbincangan yang lebih hangat di grup lainnya, hingga menjadi trend center: bagaimana perpaduan teknologi dapat menjadi salah satu jalan menuju pertanian berkelanjutan. Cerita ini dimulai dari penerapan media atau alat berbasis IoT (Internet of Things) dan Blockchain. IoT adalah seperangkat alat yang menjadi sumber pencatatan data awal di lapangan. Sementara blockchain berfungsi sebagai penampung sekaligus pengolah data tersebut. Dengan perpaduan keduanya, informasi dari kegiatan pertanian dapat terdeteksi lebih cepat, akurat, dan valid. Sebagai contoh, pada tanaman padi: IoT dapat mendeteksi serangan hama—jenis serangga apa yang datang, tingkat intensitasnya, dan kondisi lingkungan saat itu. Data tersebut kemudian direkam oleh blockchain, yang selanjutnya dapat terhubung dengan sistem solusi—misalnya pengendalian berbasis suara tertentu atau teknologi lainnya. Manfaat lanjutannya adalah hasil produksi menjadi terukur. Informasi kuantitas, kualitas, produktivitas, estimasi panen, hingga proses budidaya tersimpan dalam sistem blockchain melalui mekanisme smart contract. Data ini menyajikan informasi lengkap kepada konsumen—mulai dari proses awal berbasis IoT, pencatatan smart contract, hingga riwayat produksi—yang dapat diakses hanya dengan memindai QR code. Inilah revolusi di mana petani dapat “bertemu” langsung dengan konsumennya melalui transparansi data. Mungkin terdengar rumit dalam bahasa teknologi, namun sebenarnya sangat mudah diterapkan. Ekosistem pertanian—dari tanam, serangan hama, hingga panen—adalah aktivitas yang setiap hari dijalani petani. Yang dibutuhkan hanyalah wadah, seperti koperasi atau relawan, untuk mendigitalisasi ekosistem tersebut. Apa yang dilakukan Koperasi ALKO adalah membangun sistem berbasis blockchain untuk komoditas kopi Sumatra. Aplikasi yang kami kembangkan sendiri mengintegrasikan IoT, smart contract, NFT, dan sistem traceability dalam satu ekosistem digital. Sekilas terlihat canggih, namun sejatinya teknologi hanyalah alat bantu. Intinya tetap pada bisnis riil di lapangan. Peran teknologi besar karena data yang terolah dengan baik memberikan petani strategi ke depan—memahami potensi, kendala, cara penanganan, hingga pengambilan keputusan secara cepat dan tepat. Berdasarkan pengalaman kami sejak awal membangun aplikasi ini: Apakah blockchain mahal? Saat ini relatif sangat murah. Pada 2019, ketika ALKO mulai mengembangkan aplikasi berbasis blockchain, biayanya memang masih tinggi. Namun kini biaya operasionalnya bahkan bisa lebih murah dibandingkan membeli pulsa telepon seluler. Apakah membuat aplikasi berbasis blockchain sulit? Tergantung pada kompleksitas alur dan coding yang dibangun. Namun teknologi seharusnya mempermudah. Saat ini, dengan dukungan AI, proses coding dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Dahulu kami membutuhkan sekitar tiga bulan untuk menyesuaikan alur aplikasi dengan kondisi lapangan. Sekarang, secara teknis, bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Namun yang paling penting bukanlah cepat atau canggihnya aplikasi, melainkan: apakah ada penggunanya? Banyak aplikasi gagal karena tidak relevan dengan kondisi lapangan dan tidak melibatkan petani sebagai pengguna utama dalam proses pembuatannya. Apa manfaat terbesar teknologi di pertanian? Selama lima tahun kami menggunakan blockchain untuk traceability kopi, manfaat yang kami rasakan antara lain: peningkatan nilai jual, ketersediaan data produksi dan pasar, pengambilan keputusan yang cepat, bahan analisa finansial dan proyeksi, kepuasan pelanggan, menciptakan customer advocate, membangun kepercayaan koperasi secara global, serta mendukung keberlanjutan. Apa manfaat aplikasi traceability kopi ALKO dan siapa penggunanya? Manfaat utama bagi konsumen adalah hak untuk mendapatkan informasi produk yang lengkap, transparan, dan fair trade. Pengguna aplikasi mencakup seluruh pemangku kepentingan kopi: petani, pengepul, eksportir, importir, kafe, hingga penikmat kopi. Saat ini, pengguna terbanyak justru berasal dari negara-negara maju. Manfaat lainnya adalah transparansi rantai pasok. Berapa jumlah pengguna aktif dan apa kendalanya? Pengguna aktif berkisar antara 915 hingga 2.400 petani. Kendala yang dihadapi antara lain keterbatasan sinyal, petani yang lupa melakukan input data, kekurangan tenaga validator, serta kebutuhan sosialisasi yang berkelanjutan. Blockchain hanya dapat berjalan jika ada semangat kebersamaan. Setiap aktor dalam rantai pasok harus mau berkontribusi membagikan informasi kegiatannya. Karena prinsip blockchain adalah desentralisasi—satu pengguna satu pencatatan. Data yang telah dimasukkan tidak dapat diubah atau dihapus. Jika satu aktor berhenti mencatat, maka rantai traceability akan terputus. Data yang diinput tersimpan dalam akun masing-masing pengguna, dapat diakses melalui cloud atau email, dan hanya dapat terhubung dengan izin pemegang kunci blockchain. Aplikasi yang dibangun ALKO bernama: https://www.qthinkx.com Aplikasi ini dihibahkan secara gratis dan dapat digunakan oleh seluruh petani kopi di Indonesia maupun global. Tim IT ALKO siap membantu petani atau koperasi lain yang ingin berdiskusi dan mengembangkan manfaat aplikasi ini lebih luas lagi. Lima tahun lalu, tidak ada yang menyangka aplikasi ini akan menjadi teknologi yang dibutuhkan dalam perdagangan komoditas global hari ini. Salam, ALKO Koperasi