Bengkulu — PT ALKO Sumatra Kopi turut mengambil bagian dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Strategi Penguatan Branding Kopi Bengkulu Menembus Pasar Nasional dan Internasional” yang diselenggarakan di Bengkulu. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri kopi, akademisi, pemerintah, komunitas petani, serta sektor perbankan untuk membahas masa depan kopi Bengkulu di pasar global.
FGD yang difasilitasi oleh Bank Indonesia tersebut menjadi ruang diskusi strategis mengenai penguatan identitas kopi Bengkulu, hilirisasi produk, peningkatan kualitas, hingga pengembangan sistem pemasaran yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Direktur Operasional PT ALKO Sumatra Kopi, Hongly Fernando, hadir sebagai salah satu pelaku usaha yang membagikan pengalaman pengembangan ekosistem kopi berbasis koperasi dan teknologi traceability dalam penetrasi pasar ekspor.
Dalam pemaparannya, ALKO menyoroti pentingnya transformasi industri kopi nasional yang tidak hanya fokus pada produksi bahan baku, tetapi juga pada pembangunan identitas daerah, transparansi rantai pasok, dan penguatan merek kopi Indonesia di pasar dunia.
“Pasar global hari ini tidak hanya membeli kopi, tetapi juga membeli cerita, asal-usul, keberlanjutan, dan transparansi produk. Karena itu kopi Bengkulu memiliki peluang besar jika dibangun dengan ekosistem yang kuat,” ujar Hongly dalam forum diskusi.
ALKO juga memperkenalkan implementasi sistem QThink-X, platform traceability berbasis blockchain yang memungkinkan asal-usul kopi dapat ditelusuri mulai dari petani, lahan, proses pasca panen, hingga distribusi ekspor. Teknologi ini dinilai penting untuk menjawab tuntutan pasar global yang kini semakin ketat terhadap standar keberlanjutan dan transparansi produk.
Diskusi berlangsung dinamis dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani kopi, komunitas hilir, eksportir, pemerintah daerah, hingga kalangan akademisi. Salah satu isu utama yang dibahas adalah bagaimana kopi Bengkulu selama ini memiliki kualitas yang baik, namun masih menghadapi tantangan pada aspek branding, hilirisasi, dan akses pasar.
Pemerintah dan pemangku kepentingan daerah menilai Bengkulu memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra kopi nasional. Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum, Bengkulu termasuk salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia dengan dominasi kopi robusta dari wilayah Rejang Lebong, Kepahiang, dan Lebong.
Dalam forum tersebut juga dibahas pentingnya penguatan indikasi geografis, standarisasi mutu, sertifikasi asal-usul, hingga strategi peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi produk kopi. Isu rendahnya konsumsi domestik dan tantangan produktivitas petani turut menjadi perhatian peserta diskusi.
ALKO menilai penguatan koperasi dan digitalisasi rantai pasok menjadi salah satu solusi penting untuk meningkatkan daya saing kopi rakyat Indonesia.
“Indonesia memiliki kopi yang luar biasa, tetapi sering kali petani tidak mendapatkan nilai tambah yang maksimal karena lemahnya sistem ekosistem dan branding. Koperasi modern dan teknologi menjadi salah satu jalan keluar,” tambah Hongly.
Forum juga menyoroti pentingnya membangun identitas kopi Bengkulu agar tidak terus keluar melalui daerah lain tanpa membawa nama asal daerahnya. Selama ini sebagian besar kopi Bengkulu dipasarkan melalui provinsi lain sehingga identitas kopi daerah kurang dikenal langsung di pasar internasional.
Kegiatan FGD ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, perbankan, dan petani untuk membangun ekosistem kopi Bengkulu yang lebih modern, berkelanjutan, dan berorientasi ekspor. Serta mewujudkan kopi Branding Bengkulu bisa Export langsung
Melalui kolaborasi tersebut, ALKO optimistis kopi Bengkulu memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai bagian dari kekuatan kopi Indonesia di pasar specialty dunia, terutama dengan dukungan teknologi, branding yang kuat, dan penguatan kelembagaan petani.